pembenihan bandeng

A.    Biologi ikan Bandeng

Klasifikasi ikan bandeng (Chanos chanos) menurut Bailly (2015) adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Subfilum         : Vertebrata
Superkelas       : Gnathostomata
Kelas               : Actinopteri
Ordo                : Gonorhynchiformes
Famili              : Chanidae
Genus              : Chanos
Spesies : Chanos chanos (Forsskål, 1775)
Bailly, N. (2015). Chanos chanos (Forsskål, 1775). In: Froese, R. and D. Pauly. Editors. (2015) FishBase. Accessed through: World Register of Marine Species at http://www.marinespecies.org/aphia.php?p=taxdetails&id=217625 on 2016-11-05

Ikan bandeng merupakan sejenis ikan laut yang mempunyai bentuk tubuh yang langsing mirip torpedo, dengan moncong agak runcing, ekor bercabang dan sisiknya halus. Warna ikan bandeng putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan agak gelap pada punggungnya (Soeseno, 1988). Bandeng mempunyai sirip punggung yang jauh di belakang tutup insang, dengan 14 sampai 16 jari-jari pada sirip punggung, 16 sampai 17 jari-jari pada sirip dada, 11 sampai 12 jari-jari pada sirip perut, 10 sampai 11 jari-jari pada sirip anus dan pada sirip ekor berlekuk simetris dengan 19 jari-jari. Sisik pada garis susuk berjumlah 75 sampai 80 sisik (Kordi, 2009).
Soeseno, S. 1988. Budidaya ikan dan udang dalam tambak. Gramedia. Jakarta
Kordi, K M.G.H. 2009. Budidaya Perairan. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung

B.     Habitat dan penyebaran

Ikan bandeng hidup di perairan pantai, muara sungai, hamparan hutan bakau, laguna, daerah genangan pasang surut dan sungai. Ikan bandeng dewasa biasanya berada di perairan litoral. Pada musim pemijahan induk bandeng sering dijumpai berkelompok pada jarak yang tidak terlalu jauh dari pantai dengan karakteristik habitat perairan jernih, dasar perairan berpasir dan berkarang dengan kedalaman antara 10-30 m (Bagarinao, 1991)
Bagarinao, T.U. 1991. Biology of milkfish (Chanos chanos Forsskal). Aquaculture Department Southeast Asian Fisheries Development Center. Tigbauan. Iloilo. Philippines.
Ikan bandeng termasuk jenis ikan pelagis yang mencari makanan di daerah permukaan dan sering di jumpai di perairan dekat pantai atau daerah litoral. Secara geografis ikan ini hidup di daerah tropis maupun subtropis antara 30 – 40 LS dan antara 40 BT – 100 BB. Ikan ini suka hidup bergerombol dalam kelompok kecil antara 10 – 20 ekor. Berenang di permukaan perairan pantai terutama pada saat air pasang (Ahmad et al, 2002).
Ahmad, T., E. Ratnawati dan M.J.R. Yakob. 2002. Budidaya Bandeng Secara. Intensif. Penerbit PT. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ikan bandeng tergolong jenis ikan euryhaline yaitu mempunyai daya penyesuaian (toleransi) yang tinggi terhadap perubahan kadar garam perairan mulai 0-60 ppt. Salinitas yang baik untuk pertumbuhan bandeng berkisar antara 20-30ppt. Selain itu ikan bandeng juga memiliki ketahanan terhadap suhu perairan yang tinggi mencapai 40°C (Mas’ud, 2011).
Mas’ud, F. 2011. Prevalensi dan Derajat Infeksi Dactylogyrus sp. pada Insang Benih Bandeng (Chanos chanos) di Tambak Tradisional, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3(1):27-39Pembenihan
Proses pembenihan bandeng terdiri dari berbagai tahapan mulai dari persiapan awal yaitu persiapan tempat dan pemilihan induk. Selanjutnya dilakukan proses pemijahan baik secara alami dan buatan. Setelah memijah ikan bandeng akan menghasilkan telur dan kemudian ditetaskan dan dirawat sampai menetas menjadi larva. Larva ikan bandeng dibesarkan dan diberi pakan berupa pakan alami dan pakan buatan sampai menjadi benih yang siap dipelihara untuk dibesarkan.

1.      Seleksi induk

Seleksi ini dilakukan terhadap stok induk yang ada dengan tujuan untuk mendapatkan induk yang mempunyai produktivitas tinggi dengan ciri morfologi yang dikehendaki dan dapat diturunkan. Selain itu seleksi juga untuk mendapatkan induk yang telah matang gonad dan siap untuk dipijahkan (Sutisna & Sutarmanto, 2003).
Sutisna, D.H dan R. Sutarmanto. 2003. Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta
Ada dua cara untuk memperoleh induk bandeng yang siap dipijahkan pertama melalui usaha pembesaran dari kecil ditambak serta kedua melalui penangkapan calon induk di alam yang kemudian ditampung di tempat penampungan. Induk yang digunakan harus sehat tidak cacat fisik gerakannya lincah dan telah mencapai ukuran dewasa. Ikan yang dijadikan induk sebaiknya telah mencapai umur 3 sampai 4 tahun dan berat 3 sampai 4 kg per ekor (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Untuk membedakan induk jantan dan betina untuk membedakannya. Bandeng dipuasakan selama 7 sampai 8 hari bila ada induk yang perutnya tetap gendut atau besar berarti penuh dengan telur pertanda induk betina. Sedangkan, induk jantan dapat diketahui dengan keluarnya sperma berwarna putih bila diurut pada bagian perut (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.

2.      Pemijahan

Pemijahan bandeng dapat dilakukan secara alami dan dengan rangsangan hormon. Pemijahan secara alami dilakukan dengan memanipulasi lingkungan. Sistem ini benar-benar meniru kebiasaan pemijahan bandeng di alam. Dengan demikian induk hanya akan mengeluarkan sperma dan telur matang yang berkualitas. Selain itu teknik pelaksanaannya mudah dan relatif murah. Namun kekurangan pemijahan secara alami yaitu ikan hanya dapat bertelur pada bulan September sampai Maret dan telur yang dikeluarkan jumlahnya sedikit (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Untuk melakukan pemijahan secara alami dengan manipulasi lingkungan, induk yang telah matang kelamin ditempatkan di bak pemijahan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 1. Kepadatan induk di dalam bak pemijahan sebaiknya tidak lebih dari 5 kg per meter kubik dan pergantian air per hari mencapai 100%. Di dalam satu bak pemijahan sebaiknya dimasukkan beberapa pasang induk (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Dalam beberapa kasus bandeng dalam bak pemijahan tidak dapat memijah secara alami. Oleh karena itu perlu dilakukan rangsangan melalui penyuntikan hormon untuk mempercepat proses pemijahan. Dengan menggunakan hormon salmon dried powder, LHRH-a, 17 alpha methyltestosterone, gona hormon, puberogen, GNRH, synahorin maupun HCG, induk bandeng dapat dipijahkan secara teratur. Namun, sejauh ini jenis hormon yang sesuai untuk memacu perkembangan gonad pada bandeng adalah hormon HCG, LHRH-a dan 17 alpha methyltestosterone (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.

3.      Penetasan telur

Proses inkubasi telur harus dilakukan dengan hati-hati. Inkubasi telur ini bertujuan untuk membuat kondisi sedemikian rupa agar perkembangan embrio bandeng berlangsung dengan baik dan akhirnya diperoleh larva yang berkualitas. Telur bandeng dari hasil pemijahan alami atau rangsangan hormonal ditampung di dalam kantong jaring yang halus. Kantong jaring tersebut dapat dibuat dari kain yang halus atau plankton net dengan diameter mata jaring kurang dari diameter telur. Kantong jaring tersebut dimasukan ke dalam bak bulat kapasitas 0,5 sampai 1 m3. Air laut air laut yang digunakan selalu mengalir pada tinggal 10 liter/menit sehingga terus terjadi pergantian air (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Aerasi yang tidak terlalu kuat juga diberikan agar telur telur dapat menyebar. Suhu air bak yang sesuai bagi penetasan telur bandeng berkisar antara 27 sampai 31 0c dan salinitas antara 30-32 ppt. Padat penebaran 25-30 butir per liter. Biasanya di tempat ini akan menetas telur akan menetas dalam waktu 24 sampai 35 jam. Setelah terjadi pembuahan dengan tingkat penetasan mencapai 70 sampai 90%. Larva yang baru menetas bersifat pasif karena mulut dan matanya belum membuka sehingga pergerakannya masih tergantung pada arus air. Kualitas air yang sesuai untuk ikan bandeng adalah suhu 27-30 0C, pH 7-8, oksigen terlarut 5-7 ppm, dan CO2 bebas kurang dari 5 ppm (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.

4.      Pakan

Larva bandeng yang baru menetas mempunyai cadangan kuning telur atau yang disebut yolk shack dan butiran minyak yang disebut oil globule. Pada saat ini mulut belum terbuka, larva masih menggunakan kuning telur dan butiran minyak sebagai sumber energi bagi pertumbuhan maupun pergerakannya. Biasanya larva akan tumbuh cepat dengan menggunakan sumber energi dari tubuhnya sampai sumber energi tersebut habis. Saat sumber energi ini habis organ-organ tubuh larva mulai berkembang kondisi ini dapat dilihat pada larva berumur 2 hari (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Bukaan mulut larva bandeng setelah 120-150 jam sekitar 200 sampai 225 mikrometer. Sedangkan pakan alam yang sesuai adalah rotifera dengan ukuran 120 sampai 150 mikrometer. Biasanya cadangan makanan berupa kuning telur diserap habis saat larva berumur 2 hari. Dengan demikian larva memerlukan pasukan makanan dari luar makanan yang dapat diberikan berupa fitoplankton jenis chlorella atau tetraselmis, rotifera, artemia atau zooplankton lain yang mempunyai nilai nutrisi tinggi dan cocok dengan ukuran bukaan mulut larva (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Chlorella selain merupakan makanan larva bandeng juga menjaga keseimbangan kestabilan kualitas air. Chlorella diberikan sejak umur larva 2 hari dengan kepadatan sampai air dalam bak yang semula berwarna cerah menjadi kehijauan atau sekitar 20.000 sampai 50.000 sel/ml. Bila menggunakan tetraselmis kepadatannya antara 10.000 sampai 20.000 sel/ml. Kepadatan phytoplankton ini dipertahankan hingga D-21. Rotifera diberikan pada larva saat berumur D 2-10, caranya rotifera disaring dari 350 liter air menjadi 100 liter dan hasil saringan itulah yang diberikan sebagai pakan alami (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.
Pada hari ke 10 larva sudah dapat diberikan nauplius artemia dengan kepadatan awal 0,5 ind/ml dan ditingkatkan menjadi 10 ind/ml pada hari ke 21. Pada umur ini larva juga mulai dilatih untuk memakan tepung beras atau pelet yang dihaluskan secukupnya. Tepung beras diberikan pada pagi hari pukul 06.00 siang hari pukul 12.00 sore hari pukul 18.00 dan malam hari 24.00. Penambahan artemia tidak mutlak dilakukan tergantung pada ketersediaan pakan alami. Di samping itu larva bandeng pada umur 21 telah menerima pakan berupa tepung atau pelet yang digiling halus. Artemia dapat diganti dengan rotifera dengan cara meningkatkan jumlah rotifera. Pemberian rotifera 30-40 ekor per liter dapat memberikan pertumbuhan dan kualitas larva yang baik setelah larva bandeng berumur 21 sampai 30 hari atau paska larva selanjutnya disebut benih atau populer dengan sebutan nener (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta.

5.      Kualitas air

Air merupakan media hidup bagi ikan dimana di dalamnya mengandung berbagai bahan kimia lainnya, baik yang terlarut dan dalam bentuk partikel. Kualitas air bagi perikanan didefinisikan sebagai air yang sesuai untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan ikan, dan biasanya hanya ditentukan dari beberapa parameter. Unsur kualitas air yang paling berpengaruh terhadap kehidupan ikan antara lain suhu, oksigen terlarut (DO), keasaman (pH) dan kesadahan (Daelami, 2001).
Daelami, D.A S. 2001. Usaha Pembenihan Ikan Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dalam pemeliharaan larva sebaiknya dihindari terjadinya penimbunan pakan yang merupakan sisa pakan pada dasar pemeliharaan. Pada minggu pertama pemeliharaan larva tidak perlu dilakukan pergantian air. Namun, jika tingkat wajib entah yang sangat rendah pada minggu pertama itu akan dijumpai banyak kotoran yang mengendap atau membusuk di dasar. Hal ini akan membahayakan larva sehingga harus disiphon. Mulai minggu kedua air dapat diganti sedikit demi sedikit agar larva tidak stres. Air yang diganti kira-kira 10-25% perhati (Kordi, 2013).
Kordi, K.M.G.H. 2013. Budi daya ikan konsumsi di air tawar. Lily publisher. Yogyakarta

6.      Hama dan penyakit

Hama pada ikan bandeng dapat berupa predator yang ada di sekitar lingkungan pemeliharaan seperti burung dan biawak. Larva ikan bandeng dapat mengalami penyakit yang disebabkan oleh patogen dan parasit yang ada di perairan. Faktor yang memicu timbulnya penyakit adalah kualitas lingkungan yang buruk.
Parasit adalah hewan atau tumbuhan yang hidup dalam organisme hidup lain untuk memperoleh beberapa keuntungan dari inangnya. Parasit dapat menyebabkan penyakit pada ikan.  Organisme yang termasuk parasit ikan dapat dikelompokkan atas protozoa, helmint, dan arthropoda (Afrianto & Liviawaty, 2015). Ektoparasit yang menyerang ikan bandeng adalah Caligus sp. dan Thricodina sp. Selain itu parasit lain yang menyerang bandeng yaitu Lernea dan Dactylogyrus. Penyakit ini merupakan penyakit yang menyerang permukaan tubuh ikan bandeng.
Afrianto, E dan Liviawaty, E. 2015. Penyakit Ikan. Penebar swadaya. Jakarta.

7.      Pemanenan

Pemanenen sebaiknya diawali dengan pengurangan volume air, dalam tangki benih kemudian diikuti dengan menggunakan alat panen yang dapat disesuaikan dengan ukuran nener, memenuhi persyaratan higienis dan ekonomis. Serok yang digunakan untuk memanen benih harus dibuat dari bahan yang halus dan lunak berukuran mata jaring 0,05 mm supaya tidak melukai nener.

Nener tidak perlu diberi pakan sebelum dipanen untuk mencegah penumpukan metabolit yang dapat menghasilkan amoniak dan mengurangi oksigen terlarut secara nyata dalam wadah pengangkutan. Benih yang sudah dipanen kemudian dilakukan gading sesuai ukuran dan dihitung jumlahnya. Setelah jumlahnya sudah ditentukan dipersiapkan plastik untuk packing, dan kemudian memasukan benih ke dalam plastik packing. Tahapan selanjutnya adalah memasukkan oksigen ke dalam plastik packing. Pengikatan plastik, plastik di ikat secara kuat agar oksigen tidak keluar dan dikemas ke dalam kotak pengemasan. Setelah semua tahapan selesai, benih siap di distribusikan.
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak



Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.