• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

AKLIMATISASI

Aklimatisasi adalah adaptasi fisiologis hewan ke lingkungan baru. Aklimatisasi merupakan konsep penting untuk dipahami dalam kesehatan ikan karena membantu menjelaskan mengapa ikan dapat jatuh sakit dalam satu keadaan tertentu tetapi mungkin sangat sehat dalam kondisi yang persis sama di lain waktu.

Sebuah tangki ikan dengan pH perlahan turun dari 7,0 menjadi 5,5 selama beberapa bulan mungkin tampak normal; namun, jika air dengan cepat disesuaikan kembali ke 7.0, banyak ikan mungkin mati. Meskipun pH 5,5 membuat stres dan tidak sehat, banyak ikan yang dapat mentolerir kondisi seperti itu jika mereka dimasukkan ke lingkungan secara perlahan. Meskipun pH 7,0 berada dalam kisaran normal untuk kebanyakan ikan air tawar, terlalu cepat kembali ke normal akan berbahaya. Jadi, riwayat lingkungan sebelumnya setidaknya sama pentingnya dengan kisaran lingkungan yang dapat ditoleransi untuk ikan tersebut.

Dengan tekanan pH rendah seperti di atas, di mana kondisi lingkungan secara bertahap memburuk, efek tidak langsung dari stres sering terlihat; ini mungkin termasuk kegagalan untuk bereproduksi, pertumbuhan yang buruk, anomali perkembangan, atau biasanya, adanya apa yang disebut sebagai infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang muncul ketika pertahanan ikan tidak memadai. Saat meninjau masalah dalam panduan diagnostik akan terlihat bahwa sebagian besar masalah lingkungan (kualitas air) sering terjadi bersamaan dengan infeksi oportunistik.

Kebanyakan penyakit ikan yang menular mungkin memanfaatkan imunitas yang turun untuk menyerang. Agen khusus ini umumnya dianggap memiliki patogenisitas yang relatif rendah untuk ikan dan hanya dapat berkembang ketika imunitas turun. Contoh klasik dari patogen tersebut termasuk bakteri Aeromonas hydrophila dan flavobakteri, jamur, parasit Trichodina dan protozoa ektokommensal. Ketika patogen seperti itu atau oportunis lain ditemui, perhatikan baik-baik penyebab utamanya adalah lingkungan.

Ketidakmampuan menyesuaikan diri menjelaskan mengapa ikan sering sakit setelah ditangani atau diangkut. Tekanan yang ditimbulkan oleh penanganan, dikombinasikan dengan paparan kondisi lingkungan baru, dapat menyebabkan stres berat yang tidak dapat diterima oleh ikan (Wendelaar Bonga 1997).

x

Share:

Laporan MAT persiapan kolam

LEMBAR KERJA MAHASISWA
PRAKTIKUM MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR
Laboratorium Akuakultur
Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
 

Tanggal : Jumat, 26 Agustus 2016
Nama               : Triyitno
NIM                : 14/367490/PN/13850
A.    ACARA
PERSIAPAN KOLAM
B.     TUJUAN
1.      Mengetahui tahap persiapan kolam budidaya.
2.      Mengetahui cara meningkatkan kondisi kolam untuk mendorong pertumbuhan makanan alami ikan dan mencegah timbulnya hama dan penyakit ikan.
C.    ALAT DAN BAHAN
Alat :


1.      Kolam tanah, 3 petak
2.      Bak fiber, 3 buah
3.      Aerator
4.      Pipa paralon
5.      Alat tulis
6.      Stopwatch
7.      Ember
8.      Seser
9.      Timbangan dacin
10.  Meteran beroda
11.  Plastik
12.  Kalkulator
13.  Sekop
14.  Cangkul


Bahan
1.      Kapur pertanian
2.      Pupuk kandang (kotoran sapi kering)
3.      Air untuk kolam (dari air saluran)
4.      Kalium Permanganat (PK)

D.    CARA KERJA
1.      Persiapan Bak
Bersihkan bak dari lumut atau kotoran yang mungkin menempel di dasar dan dinding bak dengan cara menyikat secara keseluruhan bak.
Tambahkan larutan PK selama kurang lebih 5 menit dengan dosis PK 200 ppm/10 liter, kemudian bilas dengan air hingga bersih
Tutup pintu air keluar dengan benar jangan sampai ada kebocoran sedikit pun.
Isi air hingga penuh dan hitung debit.
Hitung waktu yang dibutuhkan sampai penuh
Bak  siap digunakan

2.      Persiapan Kolam
Keringkan kolam dan tutup pintu air masuk dengan benar jangan sampai ada aliran yang tiba-tiba masuk.
Melakukan perbaikan kolam, bila ada kebocoran air atau ada hama bersembunyi. Jika tidak langsung saja bersihkan kolam dari sisa – sisa kotoran yang mengendap di dasar kolam.
Buang sisa kotoran yang ada, agar kolam tidak mengalami pendangkalan.
Menimbang kapur pertanian dengan ember plastik dan tebarkan dengan dosis 0,15 kg/m2. Kemudian kotoran sapi kering dengan dosis 0,5 kg/m2
Setelah ditimbang kapur ditebar di dasar kolam dan ditembok guna menghilangkan bibit penyakit. Kotoran sapi kering dimasukkan dalam karung yang diberi lubang, dan diletakkan di dasar kolam
Tutup pintu air keluar dengan paralon penutup sehingga terjamin tidak bocor
Isikan air ke dalam kolam sampai kedalaman 60 cm. Amati kedalaman air tiap hari dan apabila air berkurang isikan kembali sampai kedalaman semula. Biarkan selama beberapa hari sehingga ditumbuhi plankton (7 hari).
Beri aerasi air berupa aliran air untuk meningkatkan DO (oksigen terlarut).
Kolam kemudian dialiri air dan didiamkan selama kurang lebih 7 hari, sehingga tumbuh pakan alami.

E.     HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      HASIL
Parameter
Kolam
Bak
I
II
III
I
II
III
Luas (m2)
22,68
22,68
22,68
1
1
1
Volume (m3)
13,608
13,608
13,608
0,8
0,8
0,8
Debit inlet
2,1
4,65
3
0,38
0,38
0,81
Waktu pengisian air (s)
6480
2926
4536
2105,3
2105,3
987,6
Kebutuhan kapur (kg)
3,4
3,4
3,4

Kebutuhan pupuk (kg)
11,34
11,34
11,34

Debit saluran
2,4
2,4
2,4


2.      PEMBAHASAN
Cara kerja yang dilakukan dalam persiapan kolam adalah melakukan pengeringan kolam dan menutup saluran air masuk. Kemudian melakukan perbaikan kolam, bila ada kebocoran air atau ada hama bersembunyi. Kemudian kolam dibersihkan dari sisa – sisa kotoran yang mengendap di dasar kolam. Setelah itu menimbang kapur pertanian dengan ember plastik dan tebarkan dengan dosis 0,15 kg/m2. Kemudian kotoran sapi kering dengan dosis 0,5 kg/m2 untuk ditebar di dasar kolam. Setelah ditimbang kapur ditebar di dasar kolam dan ditembok guna menghilangkan bibit penyakit. Kotoran sapi kering dimasukkan dalam karung yang diberi lubang, dan diletakkan di dasar kolam. Kemudian pintu air ditutup dan diisi air sampai kedalaman 60 cm. Kolam kemudian dibiarkan selama 7 hari untuk menumbuhkan pakan alami.
Untuk persiapan bak dilakukan dengan membersihkan bak dari lumut atau kotoran yang mungkin menempel di dasar dan dinding bak dengan cara menyikat secara keseluruhan bak. kemudian ditambahkan larutan PK selama kurang lebih 5 menit dengan dosis PK 200 ppm/10 liter, kemudian dibilas dengan air hingga bersih. Setelah itu dapat diisi air untuk pemeliharaan ikan. Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan investasi bakteri, terutama pada ikan-ikan dalam kolam (Afrianto dan  Liviawaty, 1992)
Menurut Kholis  (2010), Jenis kapur yang biasa digunakan untuk pengapuran kolam adalah kapur aktif atau kapur tohor (CaO) dan kapur pertanian (CaCO3) atau CaMg(CO3)2. Kapur tohor atau kapur sirih adalah kapur yang pembuatannya melalui proses pembakaran. bahan penyusunnya berupa batuan tohor gunung dan kulit kerang. Kapur pertanian adalah kapur karbonat yang bahan penyusunnya berupa batuan kapur tanpa melaluin proses pembakaran, tetapi langsung digiling. terdapat dua macam kapur pertanian, yaitu kalsit dan dolomit. kalsit bahan bakunya didominasi oleh kandungan karbonat dan sedikit magnesium (CaCO3), sementara dolomit bahan bakunya didominasi oleh kalsium karbonat dan magnesium karbonat (CaMg(CO3)2).
Menurut Mahyudin (2008), Pemberian kapur dilakukan dengan cara disebar merata di permukaan tanah dasar kolam. setelah pengapuran selesai, tanah dasar kolam dibalik dengan cangkul sehingga kapur bisa lebih masuk ke dalam lapisan tanah dasar. pengapuran untuk kolam semen dan terpal dilakukan dengan cara dinding kolam dan dasar terpal dikuas dengan kapur yang telah dicampuri air . Menurut Ratnawati (2008), Pengapuran yang dilakukan dibagi atas 2 tahap yaitu pengapuran dasar dan pengapuran susulan. Pengapuran dasar dilakukan setelah pengeringan tambak dengan dosis 1.000--1.875 kg/ha yang ditebar secara merata ke permukaan tanah dasar tambak, tergantung pH tanah dasar tambak. Pengapuran susulan dilakukan setelah tambak diisi dengan air.
Syarat kualitas air untuk budidaya ikan menurut Effendi (2003) meliputi sifat fisik dan kimia seperti kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan di perairan tropis adalah antara 280C. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7- 8,5. Ikan dan organisme akuatik lain membutuhkan oksigen terlarut dengan jumlah cukup. Kebutuhan oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu, dan bervariasi antar-organisme. Rata-rata hewan akuatik memerlukan oksigen terlarut sekitar 5 ppm. Kadar karbondioksida bebas sebesar 10 mg/liter masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik, asal disertai dengan kadar oksigen yang cukup. Sebagian besar organisme akuatik masih dapat bertahan hidup hingga kadar karbondioksida bebas mencapai sebesar 60 mg/liter.
Pupuk dapat digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai, misalnya pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah tetapi kandungan bahan organik di dalamnya sangatlah tinggi. Sedangkan pupuk anorganik adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki kandungan persentase yang tinggi. Contoh pupuk anorganik adalah urea, TSP dan Gandasil (Novizan, 2007).
Menurut Marsono, (2001) beberapa kelebihan pupuk organik antara lain: (1) Mengubah struktur tanah menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan tanaman juga semakin baik. Saat pupuk dimasukkan ke dalam tanah, bahan organik pada pupuk akan dirombak oleh mikroorganisme pengurai menjadi senyawa organik sederhana yang mengisi ruang pori tanah sehingga tanah menjadi gembur. Pupuk organik juga dapat bertindak sebagai perekat sehingga struktur menjadi lebih mantap. (2) Meningkatkan daya serap dan daya pegang tanah terhadap air sehingga tersedia bagi tanaman. Hal ini karena bahan organik mampu menyerap air dua kali lebih besar dari bobotnya. Dengan demikian pupuk organik sangat berperan dalam mengatasi kekeringan air pada musim kering. (3) Memperbaiki kehidupan organisme tanah. Bahan organik dalam pupuk ini merupakan bahan makanan utama bagi organisme dalam tanah, seperti cacing, semut, dan mikroorganisme tanah. Semakin baik kehidupan dalam tanah ini semakin baik pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman dan tanah itu sendiri. Pupuk organik memiliki beberapa kelemahan dibandingkan dengan pupuk mineral, diantaranya: (1) Kandungan hara rendah. Kandungan hara pada pupuk organik umumnya rendah namun bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya, (2) Ketersediaan unsur hara lambat. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikroba tanah untuk diubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diserap oleh tanaman. Untuk menutupi kekurangan hara pada pupuk organik, maka pada saat aplikasi harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia bagi tanaman.
Pupuk anorganik atau disebut juga sebagai pupuk mineral adalah pupuk yang mengandung satu atau lebih senyawa anorganik (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004). Fungsi utama pupuk anorganik adalah sebagai penambah unsur hara atau nutrisi tanaman. Dalam aplikasinya, sering dijumpai beberapa kelebihan dan kelemahan pupuk anor-ganik. Beberapa manfaat dan keunggulan pupuk anorganik antara lain: mampu menyediakan hara dalam waktu relatif lebih cepat, menghasilkan nutrisi tersedia yang siap diserap tanaman, kandungan jumlah nutrisi lebih banyak, tidak berbau menyengat, praktis dan mudah diaplikasikan. Sedangkan kelemahan dari pupuk anorganik adalah harga relatif mahal dan mudah larut dan mudah hilang, menimbulkan polusi pada tanah apabila diberikan dalam dosis yang tinggi. Unsur yang paling dominan dijumpai dalam pupuk anorganik adalah unsur N, P, dan K.

F.     KESIMPULAN
Tahapan yang dilakukan dalam persiapan kolam adalah melakukan pengeringan kolam, kemudian melakukan perbaikan kolam dan membersihkan dari sisa – sisa kotoran yang mengendap di dasar kolam. Menebar kapur dan memasukkan pupuk.  Setelah itu kolam kemudian dibiarkan selama 7 hari untuk menumbuhkan pakan alami.
Mengetahui cara meningkatkan kondisi kolam untuk mendorong pertumbuhan makanan alami ikan adalah dengan memberikan pupuk tambahan sebagai tambahan nutrien dan menambahkan kapur untuk menaikkan pH dan mencegah timbulnya hama dan penyakit ikan.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,  E   dan  Liviawaty.   1992.   Pengendalian   Hama  dan  Penyakit   Ikan.   Kanisius. Yogyakarta.
Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan dan sumberdaya perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Kholis M. 2010. Agribisnis Patin. Penebar Swadaya. Jakarta
Leiwakabessy, F. M. dan A. Sutandi. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Diktat Kuliah. Departemen Tanah. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Mahyudin, K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya, Jakarta.
Marsono dan P. Sigit, 2001. Pupuk Akar. Redaksi Agromedia, Jakarta.
Novizan, 2007. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Ratnawati E. (2008). Budidaya Udang Windu (Penaeus Monodon) Sistem Seml- Intenslf Pada Tambak Tanah Sulfat Masam. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Maros.














LAMPIRAN
1.      perhitungan
Kolam kelompok 2
a.       Waktu pengisian air (s)
t = V/Q
  = 10368/4.65
  = 2926
b.      Kebutuhan kapur (kg)
A x 0.15 = 22.68 x 0.15
               = 3.4
c.       Kebutuhan pupuk (kg)
A x 0,5 = 22.68 x 0.5
             = 11.34

Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak



Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.