LEMBAR KERJA MAHASISWA
PRAKTIKUM MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR
Laboratorium
Akuakultur
Departemen
Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
Tanggal : Jumat, 26
Agustus 2016
Nama :
Triyitno
NIM : 14/367490/PN/13850
A.
ACARA
PERSIAPAN
KOLAM
B.
TUJUAN
1.
Mengetahui tahap persiapan kolam
budidaya.
2.
Mengetahui
cara meningkatkan kondisi kolam untuk mendorong pertumbuhan makanan alami ikan
dan mencegah timbulnya hama dan penyakit ikan.
C. ALAT DAN BAHAN
Alat
:
1.
Kolam
tanah, 3 petak
2.
Bak
fiber, 3 buah
3.
Aerator
4.
Pipa paralon
5.
Alat
tulis
6.
Stopwatch
7.
Ember
8.
Seser
9.
Timbangan dacin
10. Meteran beroda
11. Plastik
12. Kalkulator
13. Sekop
14. Cangkul
Bahan
1.
Kapur pertanian
2.
Pupuk kandang (kotoran sapi kering)
3.
Air
untuk kolam (dari air saluran)
4.
Kalium Permanganat (PK)
D. CARA KERJA
1. Persiapan
Bak
Bersihkan
bak dari lumut atau kotoran yang mungkin menempel di dasar dan dinding bak
dengan cara menyikat secara keseluruhan bak.
↓
Tambahkan
larutan PK selama kurang lebih 5 menit dengan dosis PK 200 ppm/10 liter,
kemudian bilas dengan air hingga bersih
Tutup
pintu air keluar dengan benar jangan sampai ada kebocoran sedikit pun.
↓
Isi air hingga penuh
dan hitung debit.
↓
Hitung waktu yang
dibutuhkan sampai penuh
↓
Bak siap digunakan
2. Persiapan
Kolam
Keringkan kolam
dan tutup pintu air masuk dengan benar jangan sampai ada aliran yang tiba-tiba
masuk.
↓
Melakukan
perbaikan kolam, bila ada kebocoran air atau ada hama bersembunyi. Jika tidak
langsung saja bersihkan kolam dari sisa – sisa kotoran yang mengendap di dasar
kolam.
↓
Buang sisa
kotoran yang ada, agar kolam tidak mengalami pendangkalan.
↓
Menimbang kapur
pertanian dengan ember plastik dan tebarkan dengan dosis 0,15 kg/m2.
Kemudian kotoran sapi kering dengan dosis 0,5 kg/m2
↓
Setelah
ditimbang kapur ditebar di dasar kolam dan ditembok guna menghilangkan bibit
penyakit. Kotoran sapi kering dimasukkan dalam karung yang diberi lubang, dan
diletakkan di dasar kolam
↓
Tutup
pintu air keluar dengan paralon penutup sehingga terjamin tidak bocor
↓
Isikan air ke dalam
kolam sampai kedalaman 60 cm. Amati kedalaman air tiap hari dan apabila air
berkurang isikan kembali sampai kedalaman semula. Biarkan selama beberapa hari
sehingga ditumbuhi plankton (7 hari).
↓
Beri
aerasi air berupa aliran air untuk meningkatkan DO (oksigen terlarut).
↓
Kolam
kemudian dialiri air dan didiamkan selama kurang lebih 7 hari, sehingga tumbuh
pakan alami.
E. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
HASIL
|
Parameter
|
Kolam
|
Bak
|
|
I
|
II
|
III
|
I
|
II
|
III
|
|
Luas (m2)
|
22,68
|
22,68
|
22,68
|
1
|
1
|
1
|
|
Volume (m3)
|
13,608
|
13,608
|
13,608
|
0,8
|
0,8
|
0,8
|
|
Debit inlet
|
2,1
|
4,65
|
3
|
0,38
|
0,38
|
0,81
|
|
Waktu pengisian air (s)
|
6480
|
2926
|
4536
|
2105,3
|
2105,3
|
987,6
|
|
Kebutuhan kapur (kg)
|
3,4
|
3,4
|
3,4
|
|
|
Kebutuhan pupuk (kg)
|
11,34
|
11,34
|
11,34
|
|
|
Debit saluran
|
2,4
|
2,4
|
2,4
|
|
2.
PEMBAHASAN
Cara kerja yang dilakukan
dalam persiapan kolam adalah melakukan pengeringan kolam dan menutup saluran
air masuk. Kemudian melakukan perbaikan kolam, bila ada kebocoran air atau ada
hama bersembunyi. Kemudian kolam dibersihkan dari sisa – sisa kotoran yang
mengendap di dasar kolam. Setelah itu menimbang kapur pertanian dengan ember
plastik dan tebarkan dengan dosis 0,15 kg/m2. Kemudian kotoran sapi
kering dengan dosis 0,5 kg/m2 untuk ditebar di dasar kolam. Setelah
ditimbang kapur ditebar di dasar kolam dan ditembok guna menghilangkan bibit
penyakit. Kotoran sapi kering dimasukkan dalam karung yang diberi lubang, dan
diletakkan di dasar kolam. Kemudian pintu air ditutup dan diisi air sampai
kedalaman 60 cm. Kolam kemudian dibiarkan selama 7 hari untuk menumbuhkan pakan
alami.
Untuk persiapan bak
dilakukan dengan membersihkan bak dari lumut atau kotoran yang mungkin menempel
di dasar dan dinding bak dengan cara menyikat secara keseluruhan bak. kemudian
ditambahkan larutan PK selama kurang lebih 5 menit dengan dosis PK 200 ppm/10
liter, kemudian dibilas dengan air hingga bersih. Setelah itu dapat diisi air
untuk pemeliharaan ikan. Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang
sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan investasi
bakteri, terutama pada ikan-ikan dalam kolam (Afrianto dan Liviawaty,
1992)
Menurut Kholis (2010), Jenis
kapur yang biasa digunakan untuk pengapuran kolam adalah kapur aktif atau kapur
tohor (CaO) dan kapur pertanian (CaCO3) atau CaMg(CO3)2.
Kapur tohor atau kapur sirih adalah kapur yang pembuatannya melalui proses
pembakaran. bahan penyusunnya berupa batuan tohor gunung dan kulit kerang.
Kapur pertanian adalah kapur karbonat yang bahan penyusunnya berupa batuan
kapur tanpa melaluin proses pembakaran, tetapi langsung digiling. terdapat dua
macam kapur pertanian, yaitu kalsit dan dolomit. kalsit bahan bakunya
didominasi oleh kandungan karbonat dan sedikit magnesium (CaCO3),
sementara dolomit bahan bakunya didominasi oleh kalsium karbonat dan magnesium
karbonat (CaMg(CO3)2).
Menurut Mahyudin (2008), Pemberian
kapur dilakukan dengan cara disebar merata di permukaan tanah dasar kolam.
setelah pengapuran selesai, tanah dasar kolam dibalik dengan cangkul sehingga
kapur bisa lebih masuk ke dalam lapisan tanah dasar. pengapuran untuk kolam
semen dan terpal dilakukan dengan cara dinding kolam dan dasar terpal dikuas
dengan kapur yang telah dicampuri air . Menurut
Ratnawati (2008), Pengapuran yang dilakukan dibagi atas 2 tahap yaitu
pengapuran dasar dan pengapuran susulan. Pengapuran dasar dilakukan setelah
pengeringan tambak dengan dosis 1.000--1.875 kg/ha yang ditebar secara merata
ke permukaan tanah dasar tambak, tergantung pH tanah dasar tambak. Pengapuran
susulan dilakukan setelah tambak diisi dengan air.
Syarat kualitas air untuk budidaya ikan menurut Effendi (2003)
meliputi sifat fisik dan kimia seperti kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan di perairan tropis adalah antara 280C. Sebagian
besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar
7- 8,5. Ikan dan organisme akuatik lain membutuhkan oksigen terlarut dengan
jumlah cukup. Kebutuhan oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu, dan bervariasi
antar-organisme. Rata-rata hewan akuatik memerlukan oksigen terlarut sekitar 5
ppm. Kadar karbondioksida bebas sebesar 10 mg/liter masih dapat ditolerir oleh
organisme akuatik, asal disertai dengan kadar oksigen yang cukup. Sebagian
besar organisme akuatik masih dapat bertahan hidup hingga kadar karbondioksida
bebas mencapai sebesar 60 mg/liter.
Pupuk dapat digolongkan
menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah
pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses
pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai, misalnya pupuk kompos dan pupuk
kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal
dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara
yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah tetapi
kandungan bahan organik di dalamnya sangatlah tinggi. Sedangkan pupuk anorganik
adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan
kimia sehingga memiliki kandungan persentase yang tinggi. Contoh pupuk
anorganik adalah urea, TSP dan Gandasil (Novizan, 2007).
Menurut Marsono, (2001)
beberapa kelebihan pupuk organik antara lain: (1) Mengubah struktur tanah
menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan tanaman juga semakin baik. Saat pupuk
dimasukkan ke dalam tanah, bahan organik pada pupuk akan dirombak oleh
mikroorganisme pengurai menjadi senyawa organik sederhana yang mengisi ruang
pori tanah sehingga tanah menjadi gembur. Pupuk organik juga dapat bertindak
sebagai perekat sehingga struktur menjadi lebih mantap. (2) Meningkatkan daya
serap dan daya pegang tanah terhadap air sehingga tersedia bagi tanaman. Hal
ini karena bahan organik mampu menyerap air dua kali lebih besar dari bobotnya.
Dengan demikian pupuk organik sangat berperan dalam mengatasi kekeringan air
pada musim kering. (3) Memperbaiki kehidupan organisme tanah. Bahan organik
dalam pupuk ini merupakan bahan makanan utama bagi organisme dalam tanah,
seperti cacing, semut, dan mikroorganisme tanah. Semakin baik kehidupan dalam
tanah ini semakin baik pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman dan tanah
itu sendiri. Pupuk organik memiliki beberapa kelemahan dibandingkan dengan pupuk
mineral, diantaranya: (1) Kandungan hara rendah. Kandungan hara pada pupuk
organik umumnya rendah namun bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya, (2)
Ketersediaan unsur hara lambat. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan
untuk kegiatan mikroba tanah untuk diubah dari bentuk organik komplek yang
tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik
yang sederhana yang dapat diserap oleh tanaman. Untuk menutupi kekurangan hara
pada pupuk organik, maka pada saat aplikasi harus diikuti dengan pupuk
anorganik yang lebih cepat tersedia bagi tanaman.
Pupuk anorganik atau disebut juga sebagai pupuk mineral adalah pupuk
yang mengandung satu atau lebih senyawa anorganik (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
Fungsi utama pupuk anorganik adalah sebagai penambah unsur hara atau nutrisi
tanaman. Dalam aplikasinya, sering dijumpai beberapa kelebihan dan kelemahan
pupuk anor-ganik. Beberapa manfaat dan keunggulan pupuk anorganik antara lain:
mampu menyediakan hara dalam waktu relatif lebih cepat, menghasilkan nutrisi
tersedia yang siap diserap tanaman, kandungan jumlah nutrisi lebih banyak,
tidak berbau menyengat, praktis dan mudah diaplikasikan. Sedangkan kelemahan
dari pupuk anorganik adalah harga relatif mahal dan mudah larut dan mudah hilang,
menimbulkan polusi pada tanah apabila diberikan dalam dosis yang tinggi. Unsur
yang paling dominan dijumpai dalam pupuk anorganik adalah unsur N, P, dan K.
F. KESIMPULAN
Tahapan
yang dilakukan dalam persiapan kolam adalah melakukan pengeringan kolam, kemudian
melakukan perbaikan kolam dan membersihkan dari sisa – sisa kotoran yang
mengendap di dasar kolam. Menebar kapur dan memasukkan pupuk. Setelah itu kolam kemudian dibiarkan selama 7
hari untuk menumbuhkan pakan alami.
Mengetahui cara meningkatkan kondisi kolam untuk mendorong pertumbuhan
makanan alami ikan adalah dengan memberikan pupuk tambahan sebagai tambahan
nutrien dan menambahkan kapur untuk menaikkan pH dan mencegah timbulnya hama
dan penyakit ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,
E dan Liviawaty. 1992.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Ikan. Kanisius. Yogyakarta.
Effendi, H. 2003.
Telaah kualitas air bagi pengelolaan dan sumberdaya perairan. Kanisius.
Yogyakarta.
Kholis M. 2010.
Agribisnis Patin. Penebar Swadaya. Jakarta
Leiwakabessy, F. M.
dan A. Sutandi. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Diktat
Kuliah. Departemen Tanah. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Mahyudin, K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Marsono dan P.
Sigit, 2001. Pupuk Akar.
Redaksi Agromedia, Jakarta.
Novizan, 2007.
Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Ratnawati E. (2008).
Budidaya Udang Windu (Penaeus Monodon)
Sistem
Seml- Intenslf Pada Tambak Tanah Sulfat Masam.
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Maros.
LAMPIRAN
1. perhitungan
Kolam
kelompok 2
a.
Waktu
pengisian air (s)
t = V/Q
=
10368/4.65
= 2926
b.
Kebutuhan
kapur (kg)
A x 0.15 = 22.68 x 0.15
= 3.4
c.
Kebutuhan
pupuk (kg)
A x 0,5 = 22.68 x 0.5
= 11.34